• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Transformasi Tubuh: Apa yang Terjadi Setelah 30 Hari Berpuasa Ramadan?

img

Healthcare.biz.id Hai selamat membaca informasi terbaru. Dalam Blog Ini saya mau menjelaskan berbagai aspek dari Kesehatan, Gaya Hidup, Puasa, Ramadan, Transformasi Tubuh. Artikel Ini Mengeksplorasi Kesehatan, Gaya Hidup, Puasa, Ramadan, Transformasi Tubuh Transformasi Tubuh Apa yang Terjadi Setelah 30 Hari Berpuasa Ramadan Simak penjelasan detailnya hingga selesai.

Sebuah penelitian terkini yang dilakukan oleh Institut Psikiatri, Psikologi, dan Ilmu Saraf di King's College London menunjukkan bahwa praktik puasa dapat memberikan dampak positif pada kesehatan otak. Penelitian ini mengungkapkan bahwa puasa tidak hanya berfungsi untuk memperkuat daya ingat jangka panjang, tetapi juga dapat merangsang pertumbuhan neuron baru di daerah hipokampus, yang berperan penting dalam mencegah gangguan neurodegeneratif.

Shibib, seorang ahli gizi dari Rumah Sakit Medcare Dubai, menyatakan bahwa puasa dan olahraga memiliki kesamaan dalam meningkatkan produksi suatu protein yang dikenal sebagai faktor neurotropik yang berasal dari otak (BDNF) dalam sel-sel saraf. Proses ini mampu meningkatkan neuroplastisitas, kemampuan belajar, serta ketajaman berpikir, yang semua itu berkontribusi pada peningkatan ketahanan stres otak.

Pentingnya praktik puasa, terutama yang dilakukan selama sebulan, telah terbukti meningkatkan banyak proses penyembuhan dalam tubuh. Proses pembersihan sel yang dikenal sebagai autofagi terjadi ketika tubuh tidak perlu mencerna makanan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Larangan mengonsumsi makanan selama puasa membantu membersihkan lemak yang menumpuk di organ-organ vital seperti hati, yang pada akhirnya dapat mengurangi risiko kondisi berbahaya seperti diabetes.

Dr. Lina Shibib menjelaskan bahwa protein yang dihasilkan selama puasa berperan penting dalam proses pembelajaran, memori, dan pembentukan neuron baru. Dengan demikian, neuron menjadi lebih tahan terhadap situasi yang menimbulkan stres. Organ-organ seperti hati dan ginjal yang bertugas melakukan detoksifikasi juga memiliki kemampuan regeneratif yang lebih baik ketika tidak terus-menerus terpapar racun dari makanan.

Menariknya, manfaat puasa ini telah lama diakui, terbukti dengan praktik puasa yang dilakukan oleh umat Islam setiap Ramadan selama berabad-abad. Peneliti menemukan bahwa neuron di hipokampus dapat memperlambat kemunduran kognitif, yang berpotensi sebagai langkah pencegahan terhadap demensia dan Alzheimer.

Sebuah studi menyebutkan bahwa berpuasa dapat merendahkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Menurut Shibib, ketika seseorang mengonsumsi makanan setelah berpuasa, neuron akan memasuki mode 'pertumbuhan', yang meningkatkan produksi protein dan perkembangan jaringan saraf baru.

Selama bulan Ramadan, jutaan orang berpuasa dan fokus pada refleksi diri serta pertumbuhan spiritual. Menurut Shibib, ketika tubuh tidak mendapatkan glukosa seperti biasanya, sel-sel harus berpikir kreatif untuk menghasilkan energi.

Dokter Pankaj Shah, seorang ahli endokrinologi dari Mayo Clinic, menyatakan bahwa lemak menjadi masalah ketika tubuh tidak mampu menyimpannya dalam sel lemak dan mulai menempatkannya di area yang berbahaya. Selama puasa, neuron beradaptasi dengan mengurangi konsumsi sumber daya dan meningkatkan ketahanan terhadap stres.

Dalam hal ini, puasa bisa dianggap sebagai metode pembersihan tubuh dari racun, dengan catatan dilakukan secara teratur. Lemak, di sisi lain, merupakan racun yang sulit dihilangkan dari tubuh, sehingga banyak orang mengalami kesulitan dalam menurunkan berat badan secara efektif.

Jika puasa dilakukan dengan benar, penurunan berat badan dapat terjadi, menggantikan lemak yang tidak sehat dengan lemak yang lebih bermanfaat bagi tubuh. Hasilnya, fungsi hati, otot, serta kerja insulin dapat meningkat, dan risiko penyakit kardiovaskular dapat berkurang.

Temuan dari Universitas Sydney, Charles Perkins Center, Australia, menunjukkan bahwa selama Ramadan, terjadi pengurangan signifikan kadar lemak tubuh pada sebagian besar peserta yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Puasa juga membantu menyeimbangkan hormon yang mengontrol rasa lapar dan kenyang, sehingga dianggap bermanfaat bagi mereka yang berusaha menurunkan berat badan tetapi tidak berhasil sebelumnya.

Dengan berbagai manfaat fisik dan mental yang ditawarkannya, puasa tidak hanya menjadi sekadar ritual, tetapi juga praktik yang mendatangkan perhatian pada aspek kesehatan mental dan spiritual seseorang.

Sekian ulasan tentang transformasi tubuh apa yang terjadi setelah 30 hari berpuasa ramadan yang saya sampaikan melalui kesehatan, gaya hidup, puasa, ramadan, transformasi tubuh Terima kasih telah mempercayakan kami sebagai sumber informasi selalu bersyukur atas pencapaian dan jaga kesehatan paru-paru. Ajak temanmu untuk melihat postingan ini. Terima kasih atas kunjungannya

Special Ads
© Copyright 2024 - Ini judul website saya
Added Successfully

Type above and press Enter to search.

Close Ads